Perubahan Cina menjadi Negara Super Power

Imperialisme telah menghisap rakyat Cina selama lebih dari satu abad, awal mulanya melalui kapal-kapal dagang yang memperjual-belikan barang-barang dan kemudian dengan merampas bagian-bagian bangsa Cina. Inggris, kekuatan imperialis terkuat di waktu itu, mengambil kepemimpinan, berperang melawan Cina tahun 1839-1842 setelah Kaisar Qing menolak pasokan besar opium dari Inggris. Cina ,mengalami kekalahan dan menyerahkan Hongkong sebagai koloni Inggris. Kekuatan imperialis lainnya, seperti AS dan Perancis, secara cepat mengikuti langkah Inggris dengan mulai mengajukan tuntutan. Cina dipaksa untuk membuka lima pelabuhannya bagi barang-barang imperialis dan menyerahkan teritorinya untuk dikontrol imperialis.
Menggunakan opium sebagai alasan, Inggris bekerja sama dengan Perancis berperang melawan Cina tahun 1856-1860, dan keluar dari peperangan dengan segudang harta rampasan (dari Cina). Perang itu terjadi ketika Tsar Rusia berusaha merebut bagian sumber kekayaan Cina di daerah kaya Timur Laut. Tahun 1885, Perancis berperang lagi dengan Cina, yang memaksa Kaisar Cina untuk membuat konsesi baru bagi Perancis dan Jepang.
Perluasan daerah kekuasaan imperialis, hasilnya tahun 1900, seperti Jerman, AS, Inggris, Perancis, Rusia, Jepang, dan Portugal masing-masing memiliki daerah kekuasaan di Cina. Kondisi ini menyiapkan untuk tindakan yang lebih jauh bagi dominasi ekonomi imperialisme di Cina.
Kemudian diikuti dengan intervensi militer, meningkatnya penetrasi kapitalis, peningkatan sektor-sektor industri terbatas, dan formasi borjuasi Cina yang kecil dan lemah. Semua kejadian ini terjadi ketika Kekaisaran Cina sedang mendekati ajalnya.
Kekaisaran Cina diruntuhkan oleh sebuah pemberontakan di tahun 1911, yang diorganisir oleh borjuasi, bangsawan, dan panglima-panglima perang. Ketika mereka (para pemberontak) kemudian berjuang untuk sebuah kekuasaan nasional, Imperialis memperkuat kontrol mereka dan para panglima perang lokal mengkonsolidasi kekuatan mereka.
Melalui pendanaan rezim yang terpecah-pecah itu, bank-bank imperialis, sebagai efeknya, menyerbu Cina, mengkontrol operasi-operasi pemerintahan yang vital, termasuk pemungutan pajak dan anggaran nasional. Beberapa partai borjuis didirikan, tetapi KMT (Kuomintang- sebuah partai nasionalis), yang awalnya dipimpin oleh Dr. Sun Yat-sen dan kemudian oleh Chiang Kai-sek, adalah kekuatan yang tampil sebagai pemimpin.
Ketika Jerman mengalami kekalahan dalam PD I, semua privilages dan aset-aset mereka di Cina, tidak di kembalikan kembali ke pemerintahan Cina, namun dialihkan ke kekuatan Imperialis pemenang, yaitu Jepang. Hal ini memicu luapan kemarahan rakyat Cina.
Para pelajar dan mahasiswa memimpin demonstrasi selama sebulan yang kota-kota di Cina mulai 4 mei 1949. Aksi ini, meskipun direpresif, memimpin untuk pertama kali-nya mobilisasi massa anti-imperialis di Cina yang Moderen.
Para buruh turut memeberikan solidaritas, 60.000 buruh ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini d Shanghai, borjuasi Cina juga menunjukkan dukungannya dengan pemboikotan terhadap barang-barang asing. Demonstrasi ini berkembang pada penolakan struktur masyarakat lam/tua, dimana kelas penguasa memonopoli penggunaan bahasa tulis dan subordinasi perempuan.
Partai Komunis Cina didirikan oleh pemimpin gerakan ini di tahun 1921. Mengikuti contoh yang diberikan Bolshevik Rusia, PKC menyusun program untuk memimpin kaum buruh dan tani untuk menuntaskan revolusi demokratik sebagai langkah awal bagi penghancuran kapitalisme.
Sebagai bagian kebijakan Front Persatuan, anggota PKC juga bergabung di KMT. Kebijakan ini berdampak cepat dan besar. Pada kongres pertama KMT di Januari 1924, 40 dari 200 delegasi yang hadir adalah anggota PKC, dan awal 1926 PKC anggotanya berkembang menjadi 30.000. Selama periode ini terdapat begunung-gunung gelombang pemogokan buruh. Menurut data yang ada, antara tahun 1918 dan 1922, pemogokan meningkat dari 25 menjadi 91, jumlah pekerja yang terlibat meningkat lima belas kali lipat atau sebesar 150.000 orang.
Konferensi buruh nasional pertama yang diselenggarakan di tahun 1922, merepresentasikan 300.000 anggota. Pemberontakan buruh meledak di pertengahan tahun 1925. Jutaan orang di seluruh Cina untuk menyatakan solidaritas. Pemogokan umum selama tiga bulan di Shanghai, yang dipicu oleh polisi Inggris yang menembaki para demonstran, didukung oleh sedikitnya 135 aksi solidaritas di Cina yang melibatkan 400 ribuan orang.
Sebagai reaksi atas maraknya gelombang perlawanan kaum buruh, KMT mulai bergerak ke Kanan. Bulan Maret 1926, Chiang Kai-sek, komandan tentara KMT, mengumumkan keadaan darurat perang di Guanhzhou. membubarkan komite-komite pemogokan Guanzhou dan menangkan para pemimpin PKC.
Bulan Mei, Chiang menawarkan agar PKC dibawah kontrol politi KMT. mengehntikan penyebara issu dalam media internal dan merombak dafta semua anggota yang bekerja dalam KMT. Instruksi dari Komintern (Perkumpulan Komunis Internasional) di Moskow, yang di dominasi birokrat Stalinis, menyatakan bahwa PKC harus menerima tuntutan itu.
Sebagai pembenaran kebijakan ini, Birokrasi Stalin mengedapankan sebuah teori kasar dari Mensvik tentang revolusi demokratik yang harus dituntaskan dengan aliansi bersama borjuis “demokratik”.
Alexander Martinov, yang dulunya adalah pemimpin Menshevik dan sekarang menjadi pemipin pejabat Stalinis dalam Departemen Daerah Timur Komintern, memformulasikan teori Neo-Mensevik, menurut dia, kemenangan revolusi demokratik anti-imperialis di Cina membutuhkan sebuah blok pemerintahan yang terdiri dari empat kelas sosial (borjuasi nasionalis, buruh, kaum menengah perkotaan,dan petani). Para pemimpin Komintern menyatakan bahwa pemerintahan KMT hanyalah sebuah pemerintahan biasa dan seharusnya di dudukung oleh kubu Komunis.
Chiang meningkatkan represifitas atas kaum komunnis di tahun 1927, memaksa para pemimpin PKC untuk mundur ke daerah-daerah yang tidak mudah di akses dan menguatkan kekuatan bersenajata. Dia memperhebat kampanye pemusnahan daerah-daerak komunis di selatan tahun1930-1934, memaksa para pejuang komunis untuk mundur ke utara, via jalan barat.
Meskipun tentara merah di binasakan—dari 300.000 menjadi 30.000 selama 13 bulan, 10.000 km long march—dan sisanya terpaksa harus disatukan kembali. Dalam perjalanan, dimana mereka jauh dari kontrpl Stalinis, terjadi perdebatan yang intensif tentang strategi yang sudah dijalankan dan menyatukan kembali kekuatan-kekuatan yang terpecah dari CCP. Meskipun memakai garis Stalinis, Mao tidak siap untuk mengikuti semua perintah Stalinis. Jepang menyiapkan sebuah invasi habis-habisan ke Cina tahun 1937, memaksa PKC dan KMT untuk berkolaborasi kembali dalam perlawanan. Tapi Mao tidak menyiapkan untuk mensub-ordinasikan kembali PKC dan saat di dalam aliansi melawan Jepang tersebut, dia tidak berhenti untuk memblejeti KMT, dan menentang instruksi dari Komintern.
Selama aliansi di tahun 1937-1945, Mao tetap mengontrol Tentara Merah dan daerah-daerah yang sudah dibebaskan, penduduku yang dibawah komando tentara merah jumlahnya meningkat dari 2juta menjadi 95 juta, begitu juga dengan pasukan merah, jumlahnya meningkat dari 30.000 menjadi mendekati angka 1 juta orang.
Para petani juga memainkan peranan kunci dalam revolusi Cina. Serikat petani nasional mengadakan pertemuan mereka pertama di tahun 1926, merepresentasikan anggotanya sebesar lebih dari satu juta orang.
Usaha untuk mengorganisir para petani meningkat secara terus-menerus hanya di tahun 1930-an, ketika PKC harus mundur dari daerah perkotaan. Dalam daerah-pedesaan-merah yang begitu luas, pemerintahan di pegang oleh PKC.
Secara nasional, otoritas PKC sebagai partai pelopor di peroleh pada tahun 1930-an saat kemunduran rezim Chiang. Kekuatannya (KMT) dicurahkan sepenuhnya untuk menghadapi kaum komunis Cina daripada melawan invasi Jepang (bahkan KMT meminta bantuan jepang untuk menghadapi PKC). Chiang menganggap para penyerbu dari Jepang bagai sebuah penyakit kulit ringan, sedangkan kaum Komunis adalah penyakit kanker hati yang ganas. PKC menjadi partai panutan bagi para pejuang. Hanya sedikit yang tidak bersimpati kepada PKC.
Karena muak atas perang dan dominasi Imperialis, mayoritas rakyat berharap agar PKC dan KMT bisa bekerja sama untuk perdamaian. Tapi, dengan backing imperialis, terutama AS, KMT tetaap berpendirian agar PKC berada dibawah komandonya. (Kekuatan Sekutu memerintahkan Jepang untuk menyerah hanya pada KMT, yang kemudian KMT mendapatakan bantuan militer dan dana dari AS yang jumlahnya menggunung )
Sebuah perjanjian damai antara PKC dan KMT terjadi di tahun 1946, yang beberapa bulan kemudian di langgar oleh KMT, dengan antuan militer AS, dan membawa Cina pada perang sipil (Civil War) yang habis-habisan. AS tidak merahasiakan sikapnya “yang membantu kubu nasionalis (KMT) untuk menegakkan kekuasaannya di wilayang luas yang memungkinkan”. Walaupun KMT sendiri agak malu-malu dengan tujuan strategis mereka “ untuk menghancurkan para bandit-bandit komunis”.
Tapi hati dan pikiran jutaan orang Cina telah tertambat pada “para bandit komunis” ini. Tahun 1946, semua wilayah yang terbebaskan meluas, satu program reformasi agraria di laksanakan, sewa tanah dan pembagian keuntungan bagi tuan tanah di reduksi (dihilangkan),tanah dibagi-bagikan kepada para petani miskin, pajak bagi tuan tanah di perbesar.
Pada berbagai daerah yang dibawah kontrol KMT, ketika orang-orang kaya sedang mengeruk keuntuk dari praktek-praktek yang gila-gilaan, mayoritas rakyat sedang mengalami penderitaan yang sangat berat dikarekan inflasi yang menggila yang merupakan efek dari kebijakan pajak baru pemerintahan Chiang, dan hal itu menyebakan meningkatnya represi dan wajib militer terhadap rakyat.
Protes-protes massa menjalar di daerah-daerak kekuasaan KMT di akir 1946-an, pada bulan terakhir 500.000 pemuda di Beijing memprotes pemerkosaan terhadap seorang pelajar yang dilakukan oleh serdadu AS. Para pelajar dan mahasiswa di Shanghai memprotes perang sipil, harga yang melambung tinggi dan tindakan para spekulan, kemudian aksi-aksi ini meluas ke kota-kota lain seperti Beijing, Nanjin dan Moukden.
Chiang kemudian bereaksi keras dengan menangkapi para pelajar dan mahasiswa sebanyak 13.000 orang dalam waktu dua bulan, tetapi gelombang protes lainnya menyusul untuk meledak di tahun 1947. Para buruh juga ikut serta di banyak kota, terutama di Shanghai, dimana terjadi pemogokan dn kerusuhan yang disebabkan melambungnya biaya hidup dan adanya bencana kelaparan.
Kekuatan bersenjata AS sangat kuat, tapi mereka tidak mampu menahan pembusukan politis dan moral rezim Chiang. Sebaliknya, support moral dan politis terhadap PKC menguat.
Selama 1946-1947, PKC menghancurkan 25% dari tentara KMT, dan secara bersamaan kekuatan bersenjata PKC berkembang sampai mendekati angka 2 juta. Bulan Juni 1948, tentara merah jumlah anggotanya mendekati angka 3 juta orang dan PKC menugasai wilayah yang berpenduduk 168 juta orang. Banyak orang yang meninggalkan wilayah KMT untuk masuk ke wilayah merah atau biasa disebut “Cina Baru”.
Pertanyaan mengenai kepemimpinan adalah kritik penting dalam sebuah revolusi, sebagaimana kekalahan tragis di tahin 1926-1927. Strategi dan taktik PKC, terutama mengenai perhatian mereka terhadap peranan dan pentingnya buruh dan tani, masih dalam perdebatan. Penilaian di komplikasikan dengan tindak-tanduk rezim Mao setelah tahun 1949-an—dimana terjadi birokratisasi, penyembahan terhadap Mao, ketiadaan demokrasi kelas pekerja, dan pembersihan yang dilakukan dengan brutal. Proyek reformasi ekonomi yang dijalankan Deng Xiaping, adalah antitesa terhadap proyek yang dijalankan Mao sebelumnya. Cina di bawah kepempimpian Mao Zedong (1949-1976) dijuluki sebagai ketertutupan oleh “tirai bambu”(the bamboo curtain). Kebijakan ekonomi kedua rejim ini sama sekali tidak memiliki kesinambungan, sebagaimana yang diyakini sebagian kalangan progresif, ketika memberi label “Sosialisme Pasar” terhadap kebijakan yang ditempuh Deng.
Seperti dituturkan pakar ekonomi-politik Gregory Albo, inti strategi pembangunan Cina di masa Mao, mirip dengan strategi yang dilaksanakan oleh Uni Sovyet: alat-alat produksi dinasionalisasi sebagai milik negara, perencanaan komando terpusat, pembangunan industri-industri berat, perlindungan keamanan tanpa hak-hak politik buruh dan petani, penindasan terhadap level konsumsi buruh dan petani untuk memaksimalkan potensi kelebihan ekonomi, dan konversi kelebihan ekonomi ke dalam investasi tingkat tinggi di bidang manufaktur, dan industri. Albo melanjutkan, dengan jumlah populasi petani yang sangat besar, kolektivisasi pertanian dan sistem komune pedesaan menjadi komponen sentral pembangunan Cina.
Hasil dari kebijakan ini, tak bisa dipandang enteng. Ekonom Martin Hart-Landsberg dan Paul Burkett, menulis, antara tahun 1953 hingga berakhirnya era Mao, output industri Cina meningkat rata-rata 11 persen per tahun; walaupun sempat terinterupsi pada masa revolusi kebudayaan (1966-1976), produksi industri tetap meningkat rata-rata di atas sepuluh persen. Dengan pengecualian bantuan yang kecil dari Uni Sovyet pada dekade 1950an, pencapaian ini diraih tanpa ketergantungan terhadap investasi asing.
Di bidang pertanian, sebagai dampak dari penerapan sistem komuni pedesaan, petani Cina memperoleh kecukupan di bidang pangan. Bahkan, dibanding dengan negara-negara berkembang lainnya, produksi sektor pertanian Cina lebih baik. Di sektor kesehatan, tingkat kematian dini menurun drastis dan tingkat harapan hidup meningkat pesat, meninggalkan negara-negara berpendapatan rendah lainnya di belakangnya; di sektor perumahan dan jaminan sosial, rakyat, terutama petani, tak perlu khawatir. Kemiskinan massal (dengan pengecualian masa “Lompatan Jauh ke Depan”) berhasil dienyahkan. Adapun di bidang pendidikan, pemerintah membangun sarana pendidikan massal, dan petani Cina memiliki akses yang sangat luas terhadap pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Tak kalah penting, di bawah Mao, polarisasi sosial yang ekstrim antara si kaya dan si miskin, yang menjadi gambaran abadi struktur sosial pra-revolusi 1949, melenyap. Pada akhir 1970an, Cina sukses membangun struktur masyarakat yang paling egaliter di dunia dalam pengertian distribusi pendapatan dan pemenuhan akan kebutuhan dasar.
Bukan berarti, pembangunan di bawah Mao tidak bermasalah. Ada dua soal utama penyebabnya: pertama, sistem politik yang tertutup, yang tidak akomodatif terhadap aspirasi dari bawah, menyebabkan tersumbatnya inovasi-inovasi baru sesuai dengan perkembangan masyarakat. Benar bahwa pemerintah sanggup menyediakan kebutuhan dasar tapi, hal tersebut tidak cukup untuk meredam dinamika dalam masyarakat. Misalnya, ketika ketidakpuasan yang meluas terhadap kinerja ekonomi, politik, dan sosial yang berujung pada insiden Tiananmen pada 1976, dihadapi dengan keras oleh pemerintah.
Penyebab kedua, yang berkoinsidensi dengan kebijakan politik yang tertutup, adalah situasi politik Perang Dingin saat itu. Sebagai sebuah rejim yang menantang dominasi rejim kapitalis, Cina menerima resiko pemboikotan dan isolasi ekonomi terhadap perdagangan luar negerinya. Kondisi inilah yang memaksa Mao meluncurkan kebijakan “Lompatan Jauh ke Depan” untuk memobilisasi sumberdaya internal guna memenuhi kebutuhannya. Di samping itu, isolasi dan boikot tersebut, memunculkan perdebatan luas di kalangan internal partai menyangkut jalan pembangunan Cina yakni, antara mereka yang disebut “kelompok kiri/leftist” dengan “para pejalan kapitalis/capitalist roader.”
Masalah-masalah inilah yang kemudian berimbas pada kinerja ekonomi, menjelang berakhirnya era Mao. Dan ketika Mao wafat, dan Deng Xiaoping, yang merupakan tokoh sentral “capitalist roader” menjadi pemimpin tertinggi, ia menganggap semua kesulitan ekonomi tersebut disebabkan oleh kebijakan salah yang ditempuh Mao.
Ekonomi-pasar sosialis yang digerakkan oleh nilai nilai kemakmuran individual sebagai reformasi yang dipelopori Deng Xiaoping sejak 1978 itu disebut sebut sebagai “gaige kaifang” ( membuka diri) dan reformasi tata kelola. Figur Deng Xiaoping tidak hanya banyak dikagumi dalam negerinya tapi oleh dunia luar Cina. Juga tidak usah diragukan bahwa dua dari petuah bijaksana (wise sayings)harus berada dalam benak pikiran kita ketika kita berbicara mengenai isu isu besar masa kini, bahkan setiap masa.Kedua petuah tidak bisa diabaikan sebagai sarana untuk menganalisis dan sebagai pedoman bernilai dalam setiap tindakan kita. Deng berucap bahwa kita harus mencari kebenaran dari fakta. Artinya, kita jangan mendeduksi kebenaran hanya dari harapan harapan, sekalipun harapan harapan itu terhitung mulia. Status historis dan signifikansi teori Deng Xiaoping yang dikenal sebagai “empat prinsip dasar” yang oleh Deng sendiri disebut sebagai langkah awal reformasi dan kebijakan membuka diri (gaige kaifang).
Prinsip dasar modernisasi , antara lain menumbuhkembangkan pemikiran dan mencari kebenaran dari fakta. Pemahaman yang jelas tentang apa yang disebut “sosialisme dan bagaimana membangunnya” disertai reformasi menyeluruh. Digantinya prinsip pertentangan kelas dengan pembangunan ekonomi dan digantinya ekonomi terencana dengan ekonomi pasar sosialis. Penilaian yang cermat dan ilmiah atas perubahan-perubahan dalam situasi global. Suatu sistem sosialisme dengan karakteristik Cina.
Makin jelas visi Deng Xiaoping “gaige kaifang” yang tidak terbatas pada ekonomi, tetapi sudah memasuki peta geopolitik sosial budaya Ungkapan pragmatisterkenal Deng antara lain tidak peduli apakah kucing itu hitam atau putih warnanya, tapi kucing itu harus menangkap tikus dan menjadi kaya itu mulia. Teorinya tidak mutlak untuk negaranya, tapi menjadi panduan para penerus elite pemimpin bangsanya.
Penerus kepemimpinan Cina, duet Jiang Zemin/Zhu Rongji (1992-2003) dan Hu Jintao/Wen Jiabao(2003-2008) dan periode keduanya. Hu/Wen tetap memantapkan visi Deng Xiaoping dalam ber-internasionalisasi. Yuan Ming, gurubesar hubungan internasional pada Universitas Beijing mengungkapkan, pola pikir kritis Cina terhadap arogansi global Amerika, dengan menyatakan bahwa pemimpin politik Cina dalam ungkapan ungkapan publik tidak memakai istilah globalisasi, tapi
lebih suka memakai istilah modernisasi. Globalisasi menunjukkan sesuatu yang tidak digemari oleh pikiran Cina karena didesakkan oleh Barat atau Amerika. Sebaliknya, modernisasi adalah sesuatu yang dapat dikendalikan.
Ada suara menyegarkan dari pihak Cina dalam konperensi WTO, 10-14 September 2003 lalu di Cancun,Meksiko. Sebagai anggota baru, Cina menyatukan diri dengan negara negara dunia ketiga, bersama Brasil dan Indonesia, menjadi sponsor utama kelompok 21 yang menuntut penghapusan subsidi produk pertanian AS dan Uni Eropa. Sikap Cina benar benar berpihak pada negara negara miskin. Kini memasuki putaran WTO Doha 2008 tentunya kelompok 21 tetap memiliki kebersamaan bahka sampai siding WTO tahun lalu.
Mengapa Cina bisa mengalami perubahan ke arah yang jauh lebih baik meskipun telah mengalami banyak gejolak di berbagai bidang? Mungkin jawabannya bisa penulis uraikan di bawah ini:
Pearl Buck (1892–1973), novelis asal Amerika Serikat pernah mengatakan tidak ada sesuatu atau seorang pun yang bisa mengahancurkan orang Cina. Mereka adalah pejuang yang keras hati. Mereka adalah orang beradab paling tua di muka bumi ini. Peradaban mereka melewati berbagai fase sejarah, tapi karakteristik dasarnya tetaplah sama. Cina adalah pejuang sejati yang tidak akan pernah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan yang menghalanginya.
Sebab itu, tak heran jika Cina menjadi negara terhebat dan termaju di antara negara-negara lain, baik di bidang budaya, politik, ekonomi dan lain sebagainya. Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa dahulu kala Cina termasuk negeri yang berpenduduk banyak dan bahkan termasuk negeri yang miskin. Bahkan ketika Cina diembargo, semua negara di dunia “tak tega” dan merasa kesihan pada negeri Tirai Bambu tersebut.
Namun, dengan tidak disangka-sangka Cina ternyata mampu memenuhi segala kebutuhan warganya yang banyak meskipun dalam keadaan terjepit. Selain itu, bahkan Cina mampu bertahan di tengah keadaan embargo dan yang sangat mengejutkan negara-negara di dunia adalah ketika Cina mampu menandingi dan menyaingi negara-negara lain termasuk Indonesia dalam berbagai dimensi kehidupan, seperti dalam bidang perekonomian dan sebagainya.
Selain itu, Cina juga memilki kepercayaan diri yang kuat.Kepercayaan diri adalah salah satu sifat yang dibangun dan dikembangkan Mao Zedong sejak awal 1930-an hingga 1970-an. Percaya diri itu dibangun sebagai jawaban atas ”penghinaan seratus tahun” (bainian guochi) sebelumnya oleh bangsa-bangsa Barat dan Jepang sejak Perang Candu 1840-1949. Begitu bernafsunya membangun kepercayaan diri, Mao memaksakan Revolusi Kebudayaan (1966-1976) yang menelan korban jutaan jiwa. Bagaimanapun, Mao menyumbangkan bangunan dasar bagi infrastruktur, industri, kesehatan, dan pendidikan yang memadai. Karena itu, struktur bangunan dasar psikologis, ekonomis, sosial, dan politik untuk eksis dan maju, Cina secara alami tumbuh lebih kuat dan lebih percaya diri dibandingkan dengan, misalnya, Jepang dan Korsel yang harus menggadaikan sebagian kedaulatannya kepada AS.
Prioritas pendidikan diperhatikan dan dijalankan para pemimpin Cina sejak Mao. Menurut Gang Guo (2007), selama Revolusi Kebudayaan, jumlah siswa masuk sekolah dasar meningkat separuh, sekolah menengah pertama naik empat kali lipat, dan sekolah menengah meningkat 14 kali lipat.
Memang ada perdebatan terkait kualitas pendidikan. Namun, Mao memberi dasar distribusi yang lebih merata sumber daya manusia. Bila revolusi kebudayaan untuk SD-SMA, yang terkena langsung revolusi kebudayaan adalah yang lahir antara 1951 dan 1970, yang kini menjadi tulang punggung kemajuan RRC sejak 1990-an. Deng Xiaoping pada 1978 mengatakan, ”Bila Cina ingin memodernisasi pertanian, industri, dan pertahanan, yang harus dimodernisasi lebih dahulu adalah sains dan teknologi serta menjadikannya kekuatan produktif.” Pada 1985, Deng menegaskan pentingnya pendidikan karakter, dan orientasi hafalan dianggap ”membunuh” karakter anak. Setelah itu, guru dan kaum profesional amat dihargai.
Alih generasi pemimpin Cina ke generasi ke empat Hu Jintao/Wen Jiabao tahun 2008 ,mencuatkan dominasi inti teknokrat dalam mengendalikan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Dalam hubungan ini adalah pragmatisme dengan arus teknokrat “si hua” atau empat mengubah remaja, mengubah menjadi bersemangat kerja keras dan cerdas, mengubah menjadi profesional dan mengubah menjadi berpendidikan. Jadi kader kader Partai tidak boleh lagi hanya berbekal pengetahuan yang berasal dari buku indoktrinasi.
Setiap bangsa dapat bangkit dan mencapai tingkat kemakmuran oleh budaya produktivitas. Budaya ini juga diresapi oleh bangsa Cina. Budaya ini muncul akibat persaingan antar-bangsa yang mencuat setelah terjadinya gejala globalisme dan menjadi menarik karena terlibatnya peran negara dalam persaingan dan elemen kultur tersebut. Inilah beberapa bukti bahwa Cina adalah negara yang kuat, pejuang yang keras hati dan sejati, dan pantang menyerah dalam kondisi apa pun.

Categories: Jadi kritis itu gak dosa, Sotoy Politik | Tags: | Tinggalkan komentar

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: